macam-macam cinta

Selasa, 28 September 2010

Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu


mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an

katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya

(man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta

sejati ada tiga :






(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain

(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang

lain, dan

(3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang

lain/diri

sendiri.



Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka

berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka

bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti

perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain. Dalam Qur’an cinta

memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:



1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan

“nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu

berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia

ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.[/color][/size]

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap

berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah

ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri

sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski

untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya

dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah

adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua

terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an ,

kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni orang-orang yang

memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba

kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang

anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu

ruang yang disebut rahim. Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki

hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau

silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang

diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia

lahir batin-dunia akhirat.



3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,

sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang

diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam

konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda

(an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.



4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan

memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha

hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak

menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika

mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada

bujangnya, Yusuf.



5. Cinta ra’fah ,yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan

norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega

membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an

menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah

menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus

hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku

penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika

mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha

yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika

tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa

illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin

(Q/12:33)



7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis

yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan

bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat

kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa

ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila

wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya

memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.

Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat

al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah

pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan

kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al

mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.



8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik

kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh

anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis

cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak

membebani seseorang

kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha

(Q/2:286)



http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5416022

0 komentar:

Posting Komentar

go to other page